Cerpen
Yanusa Nugroho
Jangan lupakan aku. Kabari aku jika kau sudah sampai di sana, begitu katamu
ketika melepaskan kepergianku. Namun, pada saat yang bersamaan, perasaan ini
berkata lain. Ada sesuatu yang tiba-tiba melintas, dan dengan caranya yang aneh
pula dia mengatakan bahwa yang akan terjadi adalah sebaliknya.
Oleh karenanya, mungkin jika kau memperhatikan tatapan mataku, atau mimik yang
tergambar di raut wajahku, kau akan tahu bahwa aku meragukan setiap kata yang
kau ucapkan kepadaku.
Tetapi, itulah. Aku sendiri tak tahu lagi kepada siapa aku menaruh kepercayaan.
Dusta itu sudah terlalu sering menghujaniku. Kebohongan rasanya seperti genting
pada setiap rumah, atau jendela dengan kaca-kaca timah menorehkan
warna-warninya di kehidupanku. Sehingga, jangan heran jika pada akhirnya aku
pun mendiamkan saja apa yang terjadi pada diriku. Toh, akhirnya kau berbohong
kepadaku.
"Jangan lupa, ya.." Itu ucapanmu sambil melemparkan senyum dari bibir
yang biasa kau berikan padaku untuk kulumatkan di malam-malam kita tempo hari.
Ah, sandiwara apa lagi yang tengah kau mainkan, manisku? Bahkan ketika
kukatakan bahwa kepergianku ini untuk sesuatu yang penting bagi kita, dan kau
menunjukkan keberatan karena lamanya kita berpisah, aku sudah tahu bahwa itu
hanya pura-pura saja. Kepura-puraan seutas tali layang-layang, yang kau tarik
seolah menurunkan, yang sesungguhnya membuat terbangnya kian tinggi. Aku tahu,
sayangku, aku tahu.
Maka, ketika pesawat ini mendarat dan aku melanjutkan perjalanan dengan
landrover, mendaki dan menjelajahi tanah tak ramah, aku pun kian tergelak-gelak
oleh sandiwara yang kau mainkan. Tidak, kau tidak bermain, tetapi menyutradari
lakonku. Aha, kau menjadi sutradaranya!
Aku tahu kau tengah menimbang-nimbang dan menggores-goreskan naskah yang kau
edit sendiri, dan mengarahkan langkahku untuk menemui kegagalan itu. Kau pikir
aku tak tahu apa yang kucari? Kau pikir aku tak tahu siapa yang akan kutemui?
Meskipun ketika kukatakan bahwa aku sendiri tak yakin benar akan apa yang akan
kucari ini, dan kau mencegahku --ah, betapa manisnya adegan itu-- aku tahu
bahwa sebetulnya kau tengah berdoa agar aku cepat-cepat pergi dan menjumpai
bibir jurang kehampaan yang menganga.
"Sudah lama kenal sama Mahmud?" Tiba-tiba orang yang menjemputku
bicara. Aku tak percaya manusia besi ini bisa bicara. Sejak kedatangannya di
bandara, dan setelah hampir tiga jam dia bersamaku, baru ini yang diucapkannya.
Kau tahu, sayangku, caranya bicara menunjukkan bahwa apa yang diucapkannya
hanyalah sebuah basa-basi, pemerah bibir. Dia tak punya kepentingan apa-apa
denganku, karenanya dia bertanya tentang sesuatu yang tak berkaitan dengan
urusannya. Bayangkan, jika saja kujawab "sudah", lantas dia mau
bilang apa? Atau misalnya aku berdusta dengan mengatakan "belum",
kira-kira apa yang akan dijadikannya pertanyaan berikutnya? Tak ada. Persis
seperti caramu menghadapiku. Semuanya basa-basi.
"Sudah."
"O...berapa lama?"
Nah, apa kataku. Dia hanya mencoba berbasa-basi lagi.
"Sepuluh tahun...," jawabku asal saja.
"Teman kuliah?"
"Bukan."
"Teman kerja?"
"Bukan."
Nah, betul, kan, kataku, dia tak bisa menyambung dengan kata-kata lagi. Itu
semua karena dia hanya berbasa-basi.
"Kita akan sampai di ibukota kecamatan kira-kira dua jam lagi. Dan karena
di dalam dua jam itu saya khawatir kita tidak menemukan kedai atau apa pun,
sebaiknya kita mampir dulu di pasar ini. Sekalian kita cari pompa bensin."
"O...bagaimana mungkin dalam dua jam perjalanan kita tidak bisa menemukan
warung, atau kedai makanan?"
"...?"
Dia hanya menatapku dengan bingung. Otaknya tak cukup cerdas mencari sebuah
kalimat yang bisa membuatku paham. Lalu, sambil menengok ke kanan dan ke kiri,
mencari warung, dia kembali tenggelam dalam kebisuannya.
Selama menunggu makanan di kedai, aku membayangkan serbuk racun ditaburkan di
makanan yang akan kumakan. Ah, jangan kau pura-pura, sayangku, dia adalah orang
suruhanmu. Jangan menyangkal, aku tahu. Engkau ingin tahu bagaimana aku bisa
tahu? Haha...untuk apa? Membuktikan bahwa kau adalah seorang juru catat yang
andal? Dia dengan mudahnya menyuruh si pemilik warung untuk menaburkan sejenis
sianida atau racun apalah namanya, ke dalam makananku.
"Saya belum lapar..."
Dan lihatlah wajahnya yang tolol itu.
"Saya sudah pesan 2 piring dan Anda setuju kita makan dulu. Kenapa
tiba-tiba merasa belum lapar?"
"Maaf, ini perut saya. Sayalah yang paling tahu kondisinya."
"Hmm...tapi kita harus bayar 2 piring."
"Tak masalah. Saya akan bayar. Kalau mau, silakan makan punya
saya..."
Piring dan lauk dihidangkan. Ikan bakar, sambal dan lalapan.
Dia makan dengan lahapnya. Aku hanya mengamatinya saja. Dia terlalu lahap, dan
betul-betul menikmati nasi hangat dan ikan bakar itu.
"Jadi, nggak makan?"
Aku menggeleng.
"Sayang kalau dibuang. Saya makan, ya?" Dan dia langsung mengambil
jatahku.
Dan kembali dia melahap habis nasiku, laukku dan lalapanku. Dia minum dengan
tegukan besar dan mengeluarkan sendawa besar. Sungguh edan!
Kuamati perubahan di wajahnya. Sebentar lagi, ya, sebentar lagi dia akan...
Aneh. Si besi ini tak mati-mati juga, padahal, menurut dugaanku, piringku pasti
beracun dan...mungkin aku salah. Landrover menderum lagi membelah malam.
Dia menyalakan rokok dan menikmati laju kendaraan dengan seenak perutnya.
Sementara itu aku terayun-ayun dan merasakan kantuk mengganduli mataku. Tidak,
tak mungkin aku tertidur, sementara kaki-tanganmu siap menikamku. Ini juga
bagian sandiwaramu, bukan?
Tiba-tiba mobil berdecit, membelok dan berhenti. "Maaf, perut
saya..." dia lari ke semak-semak sambil membawa sebotol air.
"Kebanyakan sambal," teriaknya sebelum menghilang di semak-semak.
Bukan kebanyakan sambal, tapi sianidamu mulai bekerja. Bagaimana mungkin dia
yang menyuruh menaburkan bubuk racun itu kemudian memakannya? Apakah dia ingin
meyakinkan aku bahwa... ah, sandiwara terlucu yang pernah kusaksikan.
Mesin menyala, lampunya mengarah ke semak-semak. Sialan, aku disuruh
menyaksikan dan menunggui pembunuhku buang air! Kampret! Aku sungguh tak
mengerti jalan pikiranmu. Kita sebentar lagi akan menikah, dan dalam pernikahan
itu, kujamin bahwa diriku akan bisa membuatmu menjadi wanita terhormat, ibu
dari anak-anakku. Yang aku tak mengerti, mengapa kau sudah... ah, itu yang aku
tak paham. Apa sebetulnya motivasimu?
Dan Mahmud itu, nama yang kau sebut-sebut sebagai kawan yang mungkin bisa
membantuku itu, bukankah dia kekasih gelapmu? Jangan kau sangkal dan
membalikkan kenyataan itu sebagai bentuk kecemburuanku padamu. Jika bukan
kekasih gelapmu, mana mungkin kau secara cepat memberikan nama itu kepadaku?
Apalagi, rumahnya jauh dari rumah kita. Bayangkan, aku harus berpesawat, lalu
naik landrover ini berjam-jam, baru bisa menemukannya. Aku curiga,
jangan-jangan kau telah bersekongkol dengan Mahmud. Dan manusia besi yang
sekarang sedang berjuang keras di balik semak-semak itu, tentunya adalah
kaki-tangan Mahmud juga.
Tetapi, mengapa?
Aku sendiri meragukan apakah yang kucari ini akan kutemukan atau tidak. Tetapi,
ketika kukatakan kepadamu, tempo hari itu, aku jadi curiga. Jangan-jangan,
sikapmu, ucapanmu, bahkan tangisanmu, sebetulnya adalah taktikmu saja agar aku
meragukan kepergianku. Itu sebabnya, aku justru ingin pergi dan mencarinya.
Seandainya saja, engkau tidak keberatan dan mempersilakan aku pergi, mungkin
aku malah tak pergi.
Tetapi karena kau merengek agar tak kutinggalkan, entahlah, keinginanku untuk
pergi rasanya kian menggebu.
Sungguh aku tidak mengerti sikapmu.
"Wah, lega rasanya, bisa..." Dan dia mengakhiri kalimatnya dengan
ekspresi puas, diulas senyum lebar.
Sungguh tak sopan manusia satu ini. Selesai buang hajat malah pamer!
Perjalanan berlanjut. Hanya bunyi mesin yang kudengar. Jalan berkelok-kelok,
mendaki, menurun, bergelombang. Belum mati juga, dia.
"Merokok?"
"Terima kasih. Kata orang merokok bisa memendekkan umur," jawabku
berusaha ketus. Maksudku agar dia mengerti bahwa sebetulnya aku keberatan kalau
dia merokok.
Ajaib dia malah tertawa terbahak-bahak.
"Hebat benar, Tuhan bisa dikalahkan oleh rokok..." dan gelak tawanya
kian nyaring di malam sunyi ini.
Sinting, dia membawa-bawa nama Tuhan demi sebatang rokok sialan itu.
"Anak saya lima. Yang besar sudah SMA, Mas?"
Ampun, siapa yang mau tahu keluarganya? Mau punya anak selusin pun, aku tak
peduli. "Belum kawin...," jawabku lesu.
"Lho, saya pikir Mas ini suaminya Mbak Desy?"
Nah, nah...bagaimana mungkin dia tahu namamu? Bukankah kau pun tak mengenalnya?
Bagaimana mungkin dia tahu bahwa namamu Desy dan aku adalah pasanganmu? Jika
bukan ada apa-apanya, tentu tak mungkin dia tahu banyak tentang kita.
"Pak Mahmud bilang bahwa Mas ini suaminya Mbak Desy. Jadi, bukan? Maksud
saya, belum menikah?" Dia pun terbahak lagi.
Lihatlah, Des, lihat... ah, seandainya saja kau bisa menyaksikan bagaimana
laki-laki besi ini tertawa geli. Dia mengejekku. Dia menertawakanku. Bukankah
ini sebetulnya maksudmu "melemparkan"-ku kemari? Agar aku jadi bahan
tertawaan orang lain? Oh, Desy, Desy... aku semakin tak mengerti mengapa kau
menyukai cara-cara aneh untuk menghina calon suamimu sendiri?
"Mumpung masih muda, kawinlah Mas. Maaf usia Mas berapa?"
Hmmm! Mau apa dia tanya-tanya umurku? "Empat puluh."
Dia diam. Kurasa dia tak percaya atau angka empat puluh merupakan angka keramat
baginya. Dan, Desy, inikah caramu agar aku dicerca oleh orang lain? Bukankah
sudah menjadi keputusanmu bahwa selisih usia kita yang nyaris dua puluh tahun
ini bukan soal untuk berumah tangga? Lalu, mengapa kau selalu menggiringku ke
dalam bubu jebakan, agar setiap orang mempertanyakan masalah usia kita?
Apa rencanamu sebetulnya di balik ini semua?
Jam 11 malam landrover berhenti di depan sebuah rumah panggung. Sunyi dan gelap
mengepung. Untunglah bulan masih mau membagi sinarnya. Bulan tanggal berapa
sekarang, mengapa belum bulat penuh?
Mungkin, karena mendengar derum mobil, si tuan rumah membuka pintu. Seorang
laki-laki besar, bercelana jins berkaos hitam, tegak di ambang pintu. Cahaya
menyeruak menginginkan kebebasan.
"Belum tidur, rupanya, Pak Mahmud..."
"Itu Mahmud?" namun aku segera sadar bahwa tadi aku mengaku
mengenalnya selama 10 tahun. Dia tentunya --seharusnya curiga dengan ucapanku.
Tapi, ah, si bodoh ini hanya diam saja. Mungkin dia mengantuk atau tak peduli.
Dia turun tangga menyambutku. Hangat. Genggaman tangannya kuat sekali dan
sebaris gigi besarnya menyeringai. Bahagia betul dia menemukan korbannya!
"Kenapa lama sekali, Din?" ucapnya di sela-sela senyumnya.
"Maaf Pak, tadi..." Si Din menepuk-nepuk perutnya sendiri sambil
meringis. Mahmud tergelak.
Paginya, aku terbangun dengan badan dirajam lelah. Maklumlah, semalam aku tak
makan dan langsung tertidur, begitu Mahmud membukakan kamar untukku. Kubuka jendela
kayu dan... Tuhanku, engkau pasti tersenyum ketika menciptakan alam ini.
Gunung-gunung berlapis-lapis, berkelambu kabut yang membuatnya kian menipis.
Bebukitan menggunduk di sana-sini, menyembul di antara padang rumput, pepohonan
dan bebatuan besar. Dan di leher-leher bukit itu, kabut tipis melayang
perlahan, layaknya kain panjang seorang jelita putri di negeri dongeng.
Kuda-kuda merumput tenang, bersama sapi dan kambing. Di manakah aku saat ini?
Belum pernah kusaksikan keramahan yang menyejukkan jiwa, seperti di tempat ini.
"Mari sarapan dulu, istri saya sudah menyiapkan." Tiba-tiba suara
yang kukenali membuatku tersadar dan melihat arloji. Jam sembilan!
"Mmm... ini waktu Indonesia Bagian Tengah. Jamnya pasti belum
disesuaikan."
"Oh...," berarti aku harus mengubahnya menjadi jam sepuluh! Astaga,
aku terbangun jam sepuluh! Berarti lelap sekali tidurku.
Sambil makan, Mahmud berkata tentang sesuatu yang akan kucari itu. Memang, dia
bilang bahwa kayu itu tumbuh hanya di daerah ini, namun tidak semua orang bisa
mencarinya. "Adanya di hutan dan hanya orang tertentu yang bisa
menemukannya."
Aku berhenti menyuap. Gagal sudah harapanku.
"Untuk apa, sih, Mbak Desy mencari kayu itu?"
"Mmm... ini memang permintaan paling aneh.. Katanya untuk persyaratan mas
kawin..."
Tanpa kuduga, Mahmud tertawa. Suaranya lantang memenuhi ruang-ruang di
rumahnya. Sesaat dia tersedak. Minum. Lalu melanjutkan gelak tawanya lagi.
"Ya, ya... saya mengerti. Itu permintaan aneh, dan lebih aneh lagi, saya
menurutinya. Saya harus ambil cuti dan...di sini ditertawakan orang,"
ucapku putus asa.
Mahmud berhenti tertawa tiba-tiba. "Oh, maaf, maaf...saya tidak
menertawakan Mas. Saya hanya tak menyangka bahwa kayu itu begitu berharga bagi
orang Jakarta. Itu saja. Jangan khawatir, saya akan membantu mencarikannya,
jika memang sepenting itu." Dia lalu mengangkat HP-nya. Gila. Di lambung
gunung seperti ini, HP-nya masih berfungsi.
Aku terdiam. Siapakah engkau, Mahmud?
Aku tiba-tiba diserang hawa aneh yang membuatku berubah pikiran. Ucapan Mahmud
yang sungguh-sungguh itu membuatku berpikir tentang semua yang tengah kulakukan
ini. Aku yang semula percaya padamu, Des, tentang syarat yang kau ajukan itu,
dan itu kubuktikan dengan kesungguhanku berangkat, tiba-tiba menjadi ragu,
karena setelah kupikir, mungkin ini hanya alasan penolakanmu atas lamaranku.
Namun, ketika kau pun agaknya meragukan permintaanmu sendiri, sementara aku
jadi kian menggebu berangkat, aku mulai bimbang dengan semua ucapanmu. Dan
ketika sesampai di tempat ini, bicara dengan Mahmud, aku...ah, entahlah.
Bagaimana jika kayu itu memang kutemukan? Aneh. Gila. Nonsense.
"Ada, Mas."
"Apanya?"
"Kayunya. Mau seberapa panjang?"
Aku terdiam. Terus terang, aku tak punya kesiapan untuk itu.
"Kalau mau dimasukkan tas, ya, paling-paling 50 cm cukup, kan?"
Aku masih diam. Jadi, kayu itu memang ada dan bisa kumasukkan tasku. Ah, gila.
Terus, aku harus bagaimana? Setelah kayu itu ada di tanganku dan itu mencukupi
syarat perkawinan kita, Desy? Aku harus bagaimana?
"Maaf, tapi permintaan Mbak Desy memang agak langka. Soalnya, biasanya
yang minta kayu itu adalah seorang dukun." ujar Mahmud sambil tersenyum,
dan tangannya mencolek ikan goreng.
Dukun? Ah, skenario apalagi yang kau kembangkan untuk lakon kita, Desy?
Ahh, aku tak tahu lagi, apakah setelah berjam-jam waktuku hilang di jalan,
dengan berbagai rajaman pikiran meninggalkanmu, cutiku yang terbuang sia-sia,
dan kayu yang memang ada itu, kemudian..."dukun"? Aku tak tahu lagi
apakah aku masih punya sisa tenaga untuk mengawinimu, Des? Terus terang aku
lelah mendengar bisik-bisik yang selalu menggaung di kepalaku ini. Aku ingin
berhenti. Aku ingin agar bisikan itu berhenti dan aku bisa lebih tenang
menjalani sisa lakonku sendiri.